Welcome Guest!
 artikel islam
 Previous Message All Messages Next Message 
FW: Aceh dalam Bingkai Surat Al-Balad  Aries Adhi Dharma
 Jan 11, 2005 00:29 PST 

This is a multi-part message in MIME format.

------_=_NextPart_001_01C4F7B7.5FC02395
Content-Type: text/plain;
charset="US-ASCII"
Content-Transfer-Encoding: 8bit



_____

From: Rika Said W [mailto:rika.said.-@tso.astra.co.id]
Sent: 11 Januari 2005 13:54
To: Aries Adhi Dharma
Subject: Aceh dalam Bingkai Surat Al-Balad








Aceh dalam Bingkai Surat Al-Balad


Oleh : M Luthfi Hamidi


Menyaksikan gempa dasyat di Aceh benar-benar memilukan. Gempa
diikuti dengan tsunami hebat menggulung kawasan yang begitu luas dari
Aceh (Indonesia) sampai Somalia (Afrika), atau kurang lebih 7.000 kilo
meter. Sebagai orang Indonesia di rantau, tiba-tiba saja kami menerima
banyak orang yang bersimpati. Dari yang sekadar mengirim SMS menanyakan
kondisi keluarga di Indonesia, yang serius menyampaikan duka
keprihatinan dan menanyakan up date berita Aceh, sampai yang 'iseng'
keheranan menyaksikan Masjid Raya Baiturrahman kreasi arsitek de Bruchi,
dibangun pada 1879, masih kokoh berdiri.

Sebagian dari pertanyaan-pertanyaan mereka, sepertinya sudah
dijawab melalui tulisan Ahmad Sumargono (Republika, 30/12). Intinya,
Sumargono mengajak untuk berinstrospeksi. Politisi diingatkan tidak
mengumbar dusta demi kepentingan gizi ekonomi dan politik mereka semata,
sementara hukum dan keadilan dicampakkan. Kita juga 'disentil' karena
membiarkan kemunkaran, kemaksiatan, dan kemusyrikan merajalela. Di akhir
tulisan, dia berharap agar tidak ada lagi perang saudara antara GAM dan
NKRI, dan sebagai gantinya berusaha sekuat tenaga mewujudkan Serambi
Mekkah, yang aman, damai, bersendikan agama.

Ada kolega kami yang menanggapi mencari hikmah dengan 'lari' ke
kitab suci, sebagai hal bodoh. Melalui milis pelajar di UK, ia
mengkritisi siaran pers Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) poin tiga
yang menyatakan ''kita hidup di daerah rawan bencana alam. Perlu
disadari bencana alam itu hampir selalu datang tiba-tiba''. Ia
berpendapat tsunami, gempa, cyclone adalah ancaman (hazards) yang akan
melahirkan bencana (disaster) manakala masyarakat dalam kondisi
kerapuhan (fragility & vulnerability). Maka, semestinya bila
infrastruktur masyarakat kuat --badan-badan seperti Badan Meteorologi
dan Geofisika berfungsi-- sepertinya bisa memberikan early warning
system yang bisa mencegah banyaknya mayat-mayat yang bergelimpangan.

Pendapat itu mungkin benar. Namun, terasa naif juga menyebut
mereka yang kembali ke kitab suci sebagai bodoh. Sains dan agama punya
logika yang berbeda, meskipun kadang bertemu pada satu titik yang sama.
Ada ilmuwan yang merasa semua bisa digenggam dengan ilmu. Ada pula yang
menilai sampai titik tertentu, akal manusia tidak bisa menjangkau. Ada
pula yang netral. Mourice Bucaille, misalnya, menyebut ada kitab suci
tertentu yang ungkapan dan ajaran menyangkut sains sejalan dengan temuan
modern. Saya pribadi berpendapat, manusia memang bisa merancang atau
mendisain alat untuk mendeteksi dini bencana. Tapi yang harus dipahami,
dalam derajat tertentu kita bisa mengurangi dampak bencana, tapi kita
tidak bisa mengelakkan sama sekali. Tulisan ini, ingin kembali melihat
bencana Aceh dari perspektif hikmah, dengan mencoba meneropongnya dari
bingkai surat ke-90 dalam al-Quran: surat al-Balad.

Surat Al-Balad
Dari 20 ayat yang ada di dalamnya, diawali dengan sumpah. Ayat
1: Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Balad secara
harfiah berarti negeri. Bersumpah dengan menyebut sebuah negeri, tentu
bermaksud memancing perhatian, paling tidak bagi penduduknya. (Yang
menarik, negeri yang disebut adalah Makkah. Bencana dengan skala
internasional yang kita alami sekarang berpusat di Aceh, tepatnya
disebut Nanggroe Aceh Darussalam (Nanggroe berarti negeri) yang lama
kita kenal dengan julukan 'Serambi Makkah'. Apakah bencana ini sekuel
dari 'sumpah' yang dideklarasikan Allah, 14 abad silam untuk meminta
perhatian penduduk negeri ini (atau bahkan komunitas internasional) agar
kembali kepada aturan main-Nya? Hanya Dia yang tahu.

Dalam ayat 5 disebutkan: Apakah manusia itu menyangka bahwa
sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Ayat ini seperti
menjawab kepongahan dan kelalaian kita. Seolah-olah kita, baik itu atas
nama individu atau negara, 'bisa berkuasa' seenaknya, melakukan segala
apa yang kita suka.

Dalam konteks Aceh, apa kesombongan dan kelalaian yang kita
lakukan di sana? Jawabnya mungkin sepele: kejahatan atas kemanusiaan.
Nyawa manusia semasa DOM, misalnya, seperti tiada arti. Penghargaan atas
kemanusiaan jatuh ke titik nadir. Menurut Forum Peduli HAM Aceh (1999),
setidaknya ada 1.321 kasus tewas/terbunuh, 1.958 kasus sipil dilaporkan
hilang, 3.430 kasus penyiksaan, 128 kasus pemerkosaan, dan 597 kasus
pembakaran. Pelakunya diduga keras banyak yang lolos dari jerat hukum.
Ayat 4: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah
payah. Frase 'susah payah' (kabad) banyak diperdebatkan maknanya oleh
para ahli tafsir, seperti terangkum dalam Tafsir Ibn Katsir.

Mujahid, misalnya, menafsirkan kabad dengan pendekatan biologi:
bermula dari setetes mani, berproses menjadi gumpalan darah beku,
segumpal daging dan seterusnya menjadi bayi. Selanjutnya, dia menyebut
kata ini sebagai sinonim wahna dalam firman Allah ''...ibunya
mengandungnya dengan susah payah, melahirkannya dengan susah payah
(pula) (46:15). Sa'id bin Jubayr mengartikan kabad sebagai susah dan
payah dalam mencari penghidupan. Sedang Ikrimah memaknainya dengan susah
payah dan derita yang panjang (long suffering).

Lepas dari apapun penafsiran kabad, ayat ini pesan moralnya
jelas: manusia diciptakan dengan susah payah, maka jagalah ia.
Tolong-menolonglah untuk melepaskannya. Jangan malah menambah masalah
dengan menimpakan derita, apalagi membunuhnya. Memusnahkan seorang saja,
tanpa hak, seperti halnya memusnahkan manusia seluruhnya! Tapi apa
pembelaan manusia? Dalam ayat 6 disebut: Dia mengatakan: aku telah
menghabiskan harta yang banyak. Dalam konteks Aceh, setelah konflik
berkepanjangan dengan beribu korban manusia, salah satu yang bertikai
boleh jadi berkata: ''Percuma dong menghabiskan dana banyak untuk
menumpas pemberontak, kalau kemudian distop dan membiarkan mereka terus
mengacau. Karena itu, tidak bisa tidak, operasi harus terus dilakukan
untuk menjaga integritas dan kesatuan''.

Lalu, kejahatan terhadap kemanusiaan pun terus berlangsung.
Kekerasan demi kekerasan, dan kejahatan demi kejahatan, juga maksiat
demi maksiat dilakukan. Saya dan Anda pembaca yang jauh dari Aceh
mungkin juga sering 'menjahati' diri sendiri dengan melakukan
maksiat-maksiat karena merasa tidak ada yang mengawasi. Tapi apa kata
Allah dalam ayat berikutnya?

Simak ayat 7: Apakah dia menyangka tiada seorangpun yang
melihatnya? Membaca ayat ini, sepertinya kita dikuliti, ditelanjangi.
Betapa kadang kita merasa aman'terhadap kejahatan-kejahatan yang kita
lakukan, karena tidak diketahui orang lain. Merasa secure karena
kebiadapan kita tidak dideteksi media massa. Padahal, CCTV Allah tak
pernah berhenti sedetik pun memantau kita.

Kemudian, simaklah ayat 8: Bukankah kami telah memberi kepadanya
dua buah mata. Dan selanjutnya ayat 9: Lidah dan dua bibir. Mata, lidah,
bibir, semuanya adalah alat komunikasi. Mata dikasih 'dua', mungkin
supaya kita bisa melihat diri dan lingkungan kita dengan lebih seksama.
Melihat persoalan dengan lebih teliti dan adil. Bibirpun demikian, agar
kemudian bisa berdialog, makan untuk bertahan hidup. Tapi lidah hanya
satu: mungkin supaya kita hati-hati, agar tidak keseleo bicara. Dalam
konteks Aceh, pesannya sederhana, berundinglah dengan kepala dingin dan
berdamailah. Jangan melakukan kejahatan lagi.

Tema damai dan kasing sayang
Melakukan perdamaian dan rekonsiliasi bukan jalan yang mudah.
Itulah sebabnya, dalam ayat 11 disebut itu sebagai jalan mendaki lagi
sukar . Untuk menyakinkan pembaca, Allah mengulang dalam ayat
selanjutnya dengan memberi tekanan kepada 'jalan mendaki', simak ayat
12: Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? Lalu Allah
menjawabnya secara berturut-turut dengan ayat 13: (yaitu) melepaskan
budak dari perbudakan. Ayat 14: atau memberi makan pada hari kelaparan.
Ayat 15: (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat. Dan ayat 16:
atau orang miskin yang sangat fakir.

Pertama, melepaskan budak. Sewaktu turun ayat, dikisahkan
seorang sahabat, Ali bin al-Husayn, memanggil budaknya, Mutarrif,
membebaskannya seraya berkata: Pergilah, Engkau bebas di mata Allah.
(Bukhari, Muslim, At-Tirmidhi, An-Nasa'i, semua meriwayatkan hadits
tentang pahala mereka yang memerdekan budak). Dalam konteks Aceh, budak
dalam arti tradisional seperti ini mungkin tidak ada lagi. Budak itu
pada dasarnya terkekang dan tidak bisa melakukan sesuatu sesuai
kehendaknya, kecuali diinginkan tuannya. Rakyat di Aceh, bisa jadi bebas
dan merdeka secara fisik, tapi bukan tidak mungkin mereka telah
terkekang atau dengan kata lain menjadi 'budak' dari kekuatan-kekuatan
yang bertikai. Karena kekuatan-kekuatan itu pula, mereka melakukan
aktifitas keseharian dengan rasa takut dan was-was, bahkan ketakutan.

Kalau pemerintah bisa melepaskan perangkap 'budak' ini,
sungguhlah ini prestasi. Tapi, lagi-lagi, ketika bertikai dua kelompok
selalu mengklaim paling benar dan lainnya salah. Namanya juga 'jalan
mendaki' mempertemukan dua kutub yang selalu bertolakbelakang tentu
sangat susah, meski bukan tidak mungkin. Kuncinya terletak pada
pendekatan sama-sama menang. Orang Jawa menyebutnya, ngluruk tanpa bolo,
menang tanpa ngasorake.

Ayat 14, 15, dan 16 jelas sekali semua kategorinya ada di Aceh
baik saat konflik, dan semakin bertambah secara eksponensial setelah
bencana gempa terjadi. Salut yang setinggi-tingginya kepada semua pihak
yang mendonasikan harta maupun tenaga sebagai bentuk ketulusan dan
simpati. Pada ayat 17 disebutkan: Dan dia (tidak pula) termasuk
orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling
berpesan untuk berkasih sayang. Berpesan untuk sabar dan kasih sayang
mungkin inilah tema yang tepat untuk memasuki tahun 2005. Tulisan kecil
ini, sama sekali tidak dimaksudkan untuk menjadi tafsir, karena saya
bukan ahli tafsir. Ini hanyalah sekedar bentuk kecil untuk menyongsong
tema akbar itu. Wallahu a'lam bis showab.

M Luthfi Hamidi adalah :
Mahasiswa MA, Islamic Management, Banking, and Finance,
Markfield Institute, Leicester, UK



------_=_NextPart_001_01C4F7B7.5FC02395
Content-Type: text/html;
charset="US-ASCII"
Content-Transfer-Encoding: 8bit

<!DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.0 Transitional//EN">
<HTML><HEAD>
<META http-equiv=Content-Type content="text/html; charset=us-ascii">
<META content="MSHTML 6.00.2800.1106" name=GENERATOR>
<STYLE></STYLE>
</HEAD>
<BODY style="COLOR: #000000; FONT-FAMILY: " bgColor=#ffffff>
<DIV dir=ltr align=left> </DIV><BR>
<DIV class=OutlookMessageHeader lang=en-us dir=ltr align=left>
<HR tabIndex=-1>
<FONT face=Tahoma size=2><B>From:</B> Rika Said W
[mailto:rika.said.-@tso.astra.co.id] <BR><B>Sent:</B> 11 Januari 2005
13:54<BR><B>To:</B> Aries Adhi Dharma<BR><B>Subject:</B> Aceh dalam Bingkai
Surat Al-Balad<BR></FONT><BR></DIV>
<DIV></DIV>
<DIV><FONT face=Arial size=2></FONT> </DIV>
<DIV><BR></DIV>
<BLOCKQUOTE id=0><LABEL id=HbSession SessionId="3416736622"></LABEL>
<DIV><FONT face=Arial size=2>
<DIV align=left>
<H3>Aceh dalam Bingkai Surat Al-Balad</H3>
<DIV> </DIV>
<DIV><EM>Oleh : </EM> <EM>M Luthfi Hamidi<BR></EM>
<DIV></DIV><EM></EM><BR><FONT face=Verdana>Menyaksikan gempa dasyat di Aceh
benar-benar memilukan. Gempa diikuti dengan tsunami hebat menggulung kawasan
yang begitu luas dari Aceh (Indonesia) sampai Somalia (Afrika), atau kurang
lebih 7.000 kilo meter. Sebagai orang Indonesia di rantau, tiba-tiba saja kami
menerima banyak orang yang bersimpati. Dari yang sekadar mengirim SMS
menanyakan kondisi keluarga di Indonesia, yang serius menyampaikan duka
keprihatinan dan menanyakan up date berita Aceh, sampai yang 'iseng' keheranan
menyaksikan Masjid Raya Baiturrahman kreasi arsitek de Bruchi, dibangun pada
1879, masih kokoh berdiri.<BR><BR>Sebagian dari pertanyaan-pertanyaan mereka,
sepertinya sudah dijawab melalui tulisan Ahmad Sumargono (Republika, 30/12).
Intinya, Sumargono mengajak untuk berinstrospeksi. Politisi diingatkan tidak
mengumbar dusta demi kepentingan gizi ekonomi dan politik mereka semata,
sementara hukum dan keadilan dicampakkan. Kita juga 'disentil' karena
membiarkan kemunkaran, kemaksiatan, dan kemusyrikan merajalela. Di akhir
tulisan, dia berharap agar tidak ada lagi perang saudara antara GAM dan NKRI,
dan sebagai gantinya berusaha sekuat tenaga mewujudkan Serambi Mekkah, yang
aman, damai, bersendikan agama.<BR><BR>Ada kolega kami yang menanggapi mencari
hikmah dengan 'lari' ke kitab suci, sebagai hal bodoh. Melalui milis pelajar
di UK, ia mengkritisi siaran pers Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) poin
tiga yang menyatakan ''kita hidup di daerah rawan bencana alam. Perlu disadari
bencana alam itu hampir selalu datang tiba-tiba''. Ia berpendapat tsunami,
gempa, cyclone adalah ancaman (hazards) yang akan melahirkan bencana
(disaster) manakala masyarakat dalam kondisi kerapuhan (fragility &
vulnerability). Maka, semestinya bila infrastruktur masyarakat kuat
--badan-badan seperti Badan Meteorologi dan Geofisika berfungsi-- sepertinya
bisa memberikan early warning system yang bisa mencegah banyaknya mayat-mayat
yang bergelimpangan.<BR><BR>Pendapat itu mungkin benar. Namun, terasa naif
juga menyebut mereka yang kembali ke kitab suci sebagai bodoh. Sains dan agama
punya logika yang berbeda, meskipun kadang bertemu pada satu titik yang sama.
Ada ilmuwan yang merasa semua bisa digenggam dengan ilmu. Ada pula yang
menilai sampai titik tertentu, akal manusia tidak bisa menjangkau. Ada pula
yang netral. Mourice Bucaille, misalnya, menyebut ada kitab suci tertentu yang
ungkapan dan ajaran menyangkut sains sejalan dengan temuan modern. Saya
pribadi berpendapat, manusia memang bisa merancang atau mendisain alat untuk
mendeteksi dini bencana. Tapi yang harus dipahami, dalam derajat tertentu kita
bisa mengurangi dampak bencana, tapi kita tidak bisa mengelakkan sama sekali.
Tulisan ini, ingin kembali melihat bencana Aceh dari perspektif hikmah, dengan
mencoba meneropongnya dari bingkai surat ke-90 dalam al-Quran: surat al-Balad.
<BR><BR>Surat Al-Balad<BR>Dari 20 ayat yang ada di dalamnya, diawali dengan
sumpah. Ayat 1: Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Balad
secara harfiah berarti negeri. Bersumpah dengan menyebut sebuah negeri, tentu
bermaksud memancing perhatian, paling tidak bagi penduduknya. (Yang menarik,
negeri yang disebut adalah Makkah. Bencana dengan skala internasional yang
kita alami sekarang berpusat di Aceh, tepatnya disebut Nanggroe Aceh
Darussalam (Nanggroe berarti negeri) yang lama kita kenal dengan julukan
'Serambi Makkah'. Apakah bencana ini sekuel dari 'sumpah' yang dideklarasikan
Allah, 14 abad silam untuk meminta perhatian penduduk negeri ini (atau bahkan
komunitas internasional) agar kembali kepada aturan main-Nya? Hanya Dia yang
tahu.<BR><BR>Dalam ayat 5 disebutkan: Apakah manusia itu menyangka bahwa
sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Ayat ini seperti menjawab
kepongahan dan kelalaian kita. Seolah-olah kita, baik itu atas nama individu
atau negara, 'bisa berkuasa' seenaknya, melakukan segala apa yang kita suka.
<BR><BR>Dalam konteks Aceh, apa kesombongan dan kelalaian yang kita lakukan di
sana? Jawabnya mungkin sepele: kejahatan atas kemanusiaan. Nyawa manusia
semasa DOM, misalnya, seperti tiada arti. Penghargaan atas kemanusiaan jatuh
ke titik nadir. Menurut Forum Peduli HAM Aceh (1999), setidaknya ada 1.321
kasus tewas/terbunuh, 1.958 kasus sipil dilaporkan hilang, 3.430 kasus
penyiksaan, 128 kasus pemerkosaan, dan 597 kasus pembakaran. Pelakunya diduga
keras banyak yang lolos dari jerat hukum. Ayat 4: Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia berada dalam susah payah. Frase 'susah payah' (kabad)
banyak diperdebatkan maknanya oleh para ahli tafsir, seperti terangkum dalam
Tafsir Ibn Katsir.<BR><BR>Mujahid, misalnya, menafsirkan kabad dengan
pendekatan biologi: bermula dari setetes mani, berproses menjadi gumpalan
darah beku, segumpal daging dan seterusnya menjadi bayi. Selanjutnya, dia
menyebut kata ini sebagai sinonim wahna dalam firman Allah ''...ibunya
mengandungnya dengan susah payah, melahirkannya dengan susah payah (pula)
(46:15). Sa'id bin Jubayr mengartikan kabad sebagai susah dan payah dalam
mencari penghidupan. Sedang Ikrimah memaknainya dengan susah payah dan derita
yang panjang (long suffering). <BR><BR>Lepas dari apapun penafsiran kabad,
ayat ini pesan moralnya jelas: manusia diciptakan dengan susah payah, maka
jagalah ia. Tolong-menolonglah untuk melepaskannya. Jangan malah menambah
masalah dengan menimpakan derita, apalagi membunuhnya. Memusnahkan seorang
saja, tanpa hak, seperti halnya memusnahkan manusia seluruhnya! Tapi apa
pembelaan manusia? Dalam ayat 6 disebut: Dia mengatakan: aku telah
menghabiskan harta yang banyak. Dalam konteks Aceh, setelah konflik
berkepanjangan dengan beribu korban manusia, salah satu yang bertikai boleh
jadi berkata: ''Percuma dong menghabiskan dana banyak untuk menumpas
pemberontak, kalau kemudian distop dan membiarkan mereka terus mengacau.
Karena itu, tidak bisa tidak, operasi harus terus dilakukan untuk menjaga
integritas dan kesatuan''. <BR><BR>Lalu, kejahatan terhadap kemanusiaan pun
terus berlangsung. Kekerasan demi kekerasan, dan kejahatan demi kejahatan,
juga maksiat demi maksiat dilakukan. Saya dan Anda pembaca yang jauh dari Aceh
mungkin juga sering 'menjahati' diri sendiri dengan melakukan maksiat-maksiat
karena merasa tidak ada yang mengawasi. Tapi apa kata Allah dalam ayat
berikutnya?<BR><BR>Simak ayat 7: Apakah dia menyangka tiada seorangpun yang
melihatnya? Membaca ayat ini, sepertinya kita dikuliti, ditelanjangi. Betapa
kadang kita merasa aman'terhadap kejahatan-kejahatan yang kita lakukan, karena
tidak diketahui orang lain. Merasa secure karena kebiadapan kita tidak
dideteksi media massa. Padahal, CCTV Allah tak pernah berhenti sedetik pun
memantau kita.<BR><BR>Kemudian, simaklah ayat 8: Bukankah kami telah memberi
kepadanya dua buah mata. Dan selanjutnya ayat 9: Lidah dan dua bibir. Mata,
lidah, bibir, semuanya adalah alat komunikasi. Mata dikasih 'dua', mungkin
supaya kita bisa melihat diri dan lingkungan kita dengan lebih seksama.
Melihat persoalan dengan lebih teliti dan adil. Bibirpun demikian, agar
kemudian bisa berdialog, makan untuk bertahan hidup. Tapi lidah hanya satu:
mungkin supaya kita hati-hati, agar tidak keseleo bicara. Dalam konteks Aceh,
pesannya sederhana, berundinglah dengan kepala dingin dan berdamailah. Jangan
melakukan kejahatan lagi. <BR><BR>Tema damai dan kasing sayang<BR>Melakukan
perdamaian dan rekonsiliasi bukan jalan yang mudah. Itulah sebabnya, dalam
ayat 11 disebut itu sebagai jalan mendaki lagi sukar . Untuk menyakinkan
pembaca, Allah mengulang dalam ayat selanjutnya dengan memberi tekanan kepada
'jalan mendaki', simak ayat 12: Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi
sukar itu? Lalu Allah menjawabnya secara berturut-turut dengan ayat 13:
(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan. Ayat 14: atau memberi makan pada
hari kelaparan. Ayat 15: (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat. Dan
ayat 16: atau orang miskin yang sangat fakir.<BR><BR>Pertama, melepaskan
budak. Sewaktu turun ayat, dikisahkan seorang sahabat, Ali bin al-Husayn,
memanggil budaknya, Mutarrif, membebaskannya seraya berkata: Pergilah, Engkau
bebas di mata Allah. (Bukhari, Muslim, At-Tirmidhi, An-Nasa'i, semua
meriwayatkan hadits tentang pahala mereka yang memerdekan budak). Dalam
konteks Aceh, budak dalam arti tradisional seperti ini mungkin tidak ada lagi.
Budak itu pada dasarnya terkekang dan tidak bisa melakukan sesuatu sesuai
kehendaknya, kecuali diinginkan tuannya. Rakyat di Aceh, bisa jadi bebas dan
merdeka secara fisik, tapi bukan tidak mungkin mereka telah terkekang atau
dengan kata lain menjadi 'budak' dari kekuatan-kekuatan yang bertikai. Karena
kekuatan-kekuatan itu pula, mereka melakukan aktifitas keseharian dengan rasa
takut dan was-was, bahkan ketakutan. <BR><BR>Kalau pemerintah bisa melepaskan
perangkap 'budak' ini, sungguhlah ini prestasi. Tapi, lagi-lagi, ketika
bertikai dua kelompok selalu mengklaim paling benar dan lainnya salah. Namanya
juga 'jalan mendaki' mempertemukan dua kutub yang selalu bertolakbelakang
tentu sangat susah, meski bukan tidak mungkin. Kuncinya terletak pada
pendekatan sama-sama menang. Orang Jawa menyebutnya, ngluruk tanpa bolo,
menang tanpa ngasorake.<BR><BR>Ayat 14, 15, dan 16 jelas sekali semua
kategorinya ada di Aceh baik saat konflik, dan semakin bertambah secara
eksponensial setelah bencana gempa terjadi. Salut yang setinggi-tingginya
kepada semua pihak yang mendonasikan harta maupun tenaga sebagai bentuk
ketulusan dan simpati. Pada ayat 17 disebutkan: Dan dia (tidak pula) termasuk
orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling
berpesan untuk berkasih sayang. Berpesan untuk sabar dan kasih sayang mungkin
inilah tema yang tepat untuk memasuki tahun 2005. Tulisan kecil ini, sama
sekali tidak dimaksudkan untuk menjadi tafsir, karena saya bukan ahli tafsir.
Ini hanyalah sekedar bentuk kecil untuk menyongsong tema akbar itu. Wallahu
a'lam bis showab.<BR><BR></FONT><I>M Luthfi Hamidi adalah : <BR>Mahasiswa MA,
Islamic Management, Banking, and Finance, Markfield Institute, Leicester,
UK</I></DIV></DIV></FONT></DIV><BR></BLOCKQUOTE>
<P></P></BODY></HTML>

------_=_NextPart_001_01C4F7B7.5FC02395--
	
 Previous Message All Messages Next Message 
  Check It Out!

  Topica Channels
 Best of Topica
 Art & Design
 Books, Movies & TV
 Developers
 Food & Drink
 Health & Fitness
 Internet
 Music
 News & Information
 Personal Finance
 Personal Technology
 Small Business
 Software
 Sports
 Travel & Leisure
 Women & Family

  Start Your Own List!
Email lists are great for debating issues or publishing your views.
Start a List Today!

© 2001 Topica Inc. TFMB
Concerned about privacy? Topica is TrustE certified.
See our Privacy Policy.